Monday, October 25

Di 2030 RI Harus Sudah Bisa Atasi Kemiskinan dan Kesenjangan

Jakarta, CNBC Indonesia kacau Pemerintah berupaya membakar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pada 2030 ditargetkan pencapaian SDGs dan memerlukan tindakan bersama oleh masyarakat biasa, bisnis, badan internasional, organisasi regional dan individu.

Pekerja Ahli Bidang Sinergi Ekonomi & Pembiayaan Kementerian PPN/Kepala Sekretariat SDGs Indonesia Amalia Adininggar Widyasanti melahirkan Media memainkan peran yang benar penting dalam mendukung dialog umum, meningkatkan pengetahuan tentang cara-cara buat mendukung Pembangunan Berkelanjutan.

“SDGs Media Compact Indonesia berniat untuk meningkatkan kesadaran akan Haluan Pembangunan Berkelanjutan, membantu mendorong tindakan lebih lanjut, dan membantu mendorong aksi pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk Agenda 2030, ” ujarnya dalam Webinar Virtual, Sabtu (5/12/2020).


SDGs disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan melibatkan 194 negeri, civil society, dan berbagai pelaku ekonomi dari seluruh penjuru negeri. Agenda ini dibuat untuk membalas tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata.

SDGs ditetapkan pada 25 September 2015 dan terdiri dibanding 17 tujuan global dengan 169 (seratus enam puluh sembilan) target yang akan dijadikan tuntunan kebijakan dan pendanaan untuk 15 tahun ke depan dan diharapkan bisa tercapai pada tahun 2030.

Tujuan dan target tersebut meliputi 3 (tiga) dimensi pendirian berkelanjutan, yaitu lingkungan, sosial, serta ekonomi. Pada mulanya, konsep SDGs diusulkan oleh Kolombia dalam government retreat yang diadakan oleh Nusantara pada Juli 2011 di Tunggal sebagai persiapan konferensi Rio+20.

Usulan ini kemudian dibawa oleh Departemen Informasi Publik PBB pada 64 th NGOs Conference pada September 2011 dan menghasilkan 17 usulan tujuan berkelanjutan serta target-target terkait. Usulan ini selalu banyak didiskusikan pada konferensi Rio+20, hingga menghasilkan suatu resolusi dengan dikenal dengan nama “The Future We Want”.

Disepakati pula dalam konferensi bahwa pendirian SDGs harus berorientasi pada tindakan, ringkas dan mudah dikomunikasikan, beserta dapat diaplikasikan secara universal oleh berbagai negara dengan mempertimbangkan kapasitas, tingkat pembangunan, serta menghormati kecendekiaan dan prioritas setiap negara. Di dalam 19 Juli 2014, Grup Kerja Terbuka (Open Working Group, OWG) PBB meneruskan usulan SDGs pada Majelis Umum PBB. Usulan itu terdiri atas 17 tujuan serta 169 target yang menjangkau isu-isu pembangunan berkelanjutan secara luas.

Pada 5 Desember 2014, Majelis Umum PBB menerima proposal OWG sebagai dasar untuk membentuk agenda pasca-MDGs. Negosiasi dengan negeri berbagai negara dimulai pada Januari 2015 dan berakhir pada Agustus 2015. Setelah negosiasi, usulan diadopsi ke dalam UN Sustainable Development Summit pada 25 – 27 September 2015 yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat.

Para Anggota atau Pengikut SDGs Media Compact Indonesia ialah institusi media di Indonesia yang berkomitmen untuk meningkatkan jumlah berita yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Media yang terlibat sanggup mengakses informasi langsung yang ada di Sekretariat SDGs Indonesia secara berkoordinasi dengan Komunikasi Publik Ahli SDGs Indonesia.

Utusan SDGs Alissa Wahid mengungkapkan zaman ini memang masih ditemui tantangan terkait SDGs di masyarakat. Hal ini karena bahasa yang dimanfaatkan dirasa terlalu sulit.

“Padahal SDGs itu mudah, misalnya ada di sebuah sekolah dengan meminta ke anak muridnya ‘ayo besok bawa air minum memakai tumbler ya’ padahal itu telah SDGs dengan bahasa yang benar mudah, ” jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)